Di tengah semua itu, mahasiswa juga dihadapkan pada pertanyaan yang semakin sulit dijawab: setelah lulus, akan bekerja di mana?
Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Persaingan dunia kerja semakin menuntut banyak hal. Gelar saja tidak selalu cukup. Mahasiswa dituntut memiliki pengalaman, keterampilan, sertifikasi, kemampuan berkomunikasi, hingga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Tidak sedikit yang akhirnya memilih bekerja atau mengambil pekerjaan sampingan sembari menjalani perkuliahan.
Dalam kondisi seperti itu, apakah tepat jika ketidakpedulian mahasiswa terhadap isu politik hanya disebut sebagai apatisme?
Politik yang Diam-Diam Masuk ke Kehidupan Mahasiswa
Masalahnya, politik sering dipahami secara sempit. Politik seolah hanya tentang pemilu, partai politik, pejabat negara, atau perdebatan di gedung pemerintahan. Padahal, keputusan politik hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, kebijakan pendidikan, kesempatan kerja, upah pekerja, hingga berbagai aturan yang memengaruhi kehidupan masyarakat tidak lahir begitu saja. Ada kebijakan dan keputusan yang berada di baliknya. Dengan demikian, mengatakan “politik tidak berpengaruh pada hidup saya” sebenarnya adalah sebuah kekeliruan.
Politik mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk pidato atau kampanye. Terkadang, politik hadir dalam bentuk harga makanan yang semakin mahal. Ia hadir ketika biaya pendidikan menjadi beban keluarga. Ia hadir ketika seorang lulusan harus bersaing dengan ribuan pencari kerja untuk mendapatkan satu posisi.
Politik ada, bahkan ketika kita memilih untuk tidak membicarakannya.
Dari Kritik di Layar hingga Keheningan di Kehidupan Nyata
Perkembangan media sosial juga mengubah cara mahasiswa berinteraksi dengan isu publik. Hari ini, menyampaikan pendapat dapat dilakukan hanya dengan mengunggah sebuah cerita, membagikan berita, atau menuliskan komentar.
Tidak ada yang salah dengan itu. Media sosial dapat menjadi ruang untuk menyebarkan informasi dan membangun kesadaran publik. Namun, persoalannya muncul ketika kritik berhenti pada unggahan.
Sebuah isu menjadi ramai selama beberapa hari, memenuhi lini masa, kemudian perlahan menghilang ketika muncul persoalan baru. Perhatian publik bergerak cepat, sementara persoalan yang dibicarakan belum tentu selesai. Kritik akhirnya berisiko menjadi sekadar konsumsi digital: dilihat, dibagikan, kemudian dilupakan.
Padahal, perubahan tidak selalu lahir dari seberapa ramai sebuah isu dibicarakan. Perubahan membutuhkan keberanian untuk mempertanyakan, mengawasi, berdiskusi, hingga menyuarakan keberatan secara langsung.
Apatis atau Kehilangan Kepercayaan?
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: mungkin sebagian mahasiswa bukan tidak peduli, melainkan kehilangan kepercayaan bahwa suara mereka akan membawa perubahan.
Ketika kritik berulang kali dianggap sebagai gangguan, ketika pertanyaan dianggap sebagai bentuk perlawanan, atau ketika suara mahasiswa hanya dicari pada momentum tertentu, rasa lelah dan kecewa dapat tumbuh.
Pada titik tertentu, diam menjadi pilihan yang dianggap paling aman.
Karena itu, menyebut mahasiswa apatis tanpa melihat penyebab di baliknya merupakan cara yang terlalu sederhana untuk membaca persoalan.
Mahasiswa memang memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap persoalan di sekitarnya. Namun, institusi pendidikan, organisasi mahasiswa, dan lingkungan sosial juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang membuat keberanian bersuara tetap hidup.
Sebab, tidak mungkin meminta mahasiswa kritis jika ruang kritik justru dipersempit.
Bertahan Bukan Alasan untuk Selamanya Diam
Kesibukan bertahan hidup memang nyata. Tugas, biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, pekerjaan, hingga kecemasan mengenai masa depan adalah persoalan yang tidak bisa dianggap remeh.
Namun, ada satu hal yang perlu disadari: ketika kita terlalu sibuk bertahan hingga tidak lagi peduli terhadap keadaan di sekitar, keputusan yang dibuat oleh orang lain pada akhirnya dapat menentukan kehidupan kita.
Hari ini mungkin kita memilih diam karena merasa persoalan tersebut tidak berhubungan dengan kita. Besok, bisa jadi persoalan itu datang langsung ke depan pintu.
Mahasiswa tidak harus menjadi ahli politik untuk mulai peduli. Tidak harus menjadi aktivis untuk berani bertanya. Tidak harus turun ke jalan setiap hari untuk menunjukkan keberpihakan terhadap persoalan sosial.
Setidaknya, mulai dengan membaca. Memeriksa informasi. Bertanya ketika ada yang tidak masuk akal. Berdiskusi. Mengawasi kebijakan. Dan tidak terburu-buru menerima keadaan hanya karena semua orang telah terbiasa dengannya.
Sebab, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar. Ada tanggung jawab untuk memahami keadaan di sekitar.
Kita mungkin memang sedang sibuk bertahan. Tetapi jika semua orang terlalu sibuk untuk bersuara, siapa yang akan mempertanyakan ketika keadaan mulai tidak berpihak kepada kita?
Mungkin persoalannya bukan mahasiswa tidak peduli. Mungkin kita hanya terlalu lama dibuat percaya bahwa suara kita tidak akan mengubah apa-apa.
.jpeg)