DARI PELETAKAN BATU PERTAMA HINGGA TANDA TANYA

 


Photo by Gani

Surakarta, LPM KONTUR − Pembangunan gedung baru Fakultas Teknik selalu direpresentasikan sebagai simbol kemajuan. Gedung baru dianggap sebagai wajah pendidikan modern sekaligus kebanggaan civitas akademika. Namun, di balik pembangunan terencana ini, muncul pertanyaan mendasar: mengapa proyek yang telah dirancang sejak lama dan sempat diresmikan dengan peletakan batu pertama ini justru berakhir menjadi tanda tanya besar? 

Apa yang terjadi?

Rencana pembangunan Gedung 9 lantai Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) awalnya disambut dengan antusiasme tinggi oleh mahasiswa. "Mahasiswa Teknik sangat senang mendengar kabar tersebut," ujar Fredy, Gubernur Fakultas Teknik UMS. Pembangunan gedung sembilan lantai ini membawa harapan besar bagi mahasiswa, ekspektasi terhadap ruang kelas yang lebih lega, laboratorium modern, serta fasilitas diskusi yang memadai menjadi angin segar di tengah bangunan kampus yang telah berusia lama. 

Namun, antusiasme mahasiswa perlahan memudar seiring dengan mandeknya proses pembangunan. Hampir enam bulan pascapeletakan batu pertama, tak ada aktivitas konstruksi signifikan yang terlihat. Hal ini menyebabkan banyak mahasiswa berspekulasi bahwa proyek akan berakhir mangkrak. "Pembangunan gedung ini terkesan mandek atau lambat dilihat dari peletakan batu pertama yang sejak Oktober juga belum ada lanjutan dari saat itu sampai sekarang," ungkap Fredy. 

Suara mahasiswa: antara harapan dan kekecewaan 

Aziz, mahasiswa Fakultas Teknik UMS mengonfirmasi adanya rasa kecewa yang berkembang di kalangan mahasiswa. Aziz mengungkapkan, "Beberapa bulan terakhir saya tak melihat adanya pembangunan besar-besaran yang dilakukan di area konstruksi. Entah saya yang kurang memperhatikan, tapi sepertinya tidak ada pekerjaan." Bahkan, aksi coret-mencoret pada spanduk yang terpampang di area kampus menjadi cermin kekesalan dan kekecewaan mahasiswa. "Sampai muak mahasiswa sehingga mencoreti MMT seperti kalimat pertanyaan berupa 'kapan dibangunnya?'," tambahnya. 

Keresahan dan kekecewaan mahasiswa ini semakin dipicu dengan minimnya informasi yang tidak jelas sumbernya dan tidak transparan. Aziz selaku mahasiswa FT mengaku belum mendapatkan penjelasan detail dan rutin terkait perkembangan proyek pembangunan ini. "Informasi yang beredar lebih banyak bersifat umum," keluhnya. Padahal, menurutnya mahasiswa akan merasa lebih percaya kepada universitas jika ada sumber informasi yang jelas dan transparan. “Mahasiswa akan merasa lebih tenang jika ada update berkala yang transparan, seperti progres persentase pekerjaan,” tambahnya. 

Mengapa macet? 

Upaya untuk mendapatkan kejelasan telah dilakukan oleh perwakilan mahasiswa. KAMA FT UMS telah beberapa kali melakukan audiensi formal dengan pihak dekanat. Dari pertemuan tersebut, terungkap bahwa kemacetan proyek disebabkan oleh adanya perubahan lokasi pembangunan oleh pihak universitas. Awalnya, gedung direncanakan berdiri di area parkiran teknik. Namun, lokasi dipindahkan ke lahan kosong di samping Edutorium. 

"Pihak fakultas sebenarnya ingin mempertahankan pembangunan di parkiran teknik agar cepat terlaksana, tapi dari universitas ingin pembangunan dipindah ke sebelah Edutorium, agar bangunan teknik yang megah itu terlihat karena kalau di belakang tidak terlihat," jelas Fredy dalam wawancaranya. Perpindahan lokasi ini tentu membutuhkan proses teknis baru, seperti membutuhkan desain ulang dan pengecoran ulang, yang menyebabkan proyek akan berjalan lambat. 

Bagaimana respos pihak kampus? 

Dari pihak kampus, baik di tingkat fakultas maupun universitas, hingga kini belum memberikan pernyataan resmi. Tidak ada konfirmasi apakah proyek ditunda, dihentikan, atau sedang menunggu tahapan berikutnya. Mahasiswa LPM Kontur telah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak Dekanat Fakultas Teknik terkait kelanjutan proyek pembangunan gedung baru tersebut. Upaya komunikasi dilakukan via WhatsApp yang hingga saat ini belum ada kejelasan, termasuk permohonan wawancara sejak pekan lalu. 

Antara kepercayaan dan harapan yang tersisa 

Situasi ini memengaruhi optimisme dan kepercayaan mahasiswa terhadap efisiensi pengelolaan proyek dan perhatian universitas terhadap peningkatan kualitas Fakultas Teknik. "Terkait kepercayaan terhadap fakultas tentunya masih berkurang," tegas gubernur FT UMS. 

Meski demikian, Aziz sebagai mahasiswa tetap berharap gedung baru ini dapat segera terwujud dan kebutuhan akan fasilitas yang layak akan terus disuarakan. "Yang paling penting, gedung ini nantinya benar-benar terasa manfaatnya. Kami butuh ruang kelas yang nyaman dan laboratorium yang lebih lengkap. Jangan sampai hanya jadi simbol saja, tapi tidak mendukung kegiatan akademik," tegasnya. 

Di tengah kekecewaan, mahasiswa masih menyimpan ruang harapan untuk Fakultas Teknik. "Saya paham kalau pembangunan itu tidak selalu mulus, yang paling penting adalah keterbukaan informasi. Kalau ada penjelasan yang jelas soal kendala dan progresnya, mahasiswa pasti bisa lebih mengerti. Yang terpenting hasil akhirnya tetap bagus dan sesuai standar, daripada cepat tapi kualitasnya kurang," lanjut Aziz.

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama